Mengenal Istilah Fast Fashion, Dampak, dan Ciri-cirinya

Dahulu jauh sebelum ada fast fashion, kebutuhan busana itu terkenal mahal. Fashion jadi salah satu barang mewah yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Bagaimana tidak, produksi baju di kala itu harus dibuat dengan tangan yang detail.

Revolusi industri pun akhirnya datang pada tahun 80-an. Dimana semua sektor industri mulai berkembang. Pengalihan dari handmade ke penggunaan teknologi pun sudah marak. Termasuk industri fashion. Dari situlah muncul fast fashion yang masih bertahan sampai sekarang.

Fast fashion adalah salah satu model bisnis industri pakaian paling umum di dunia. Bertebarnya konsep tersebut karena bisnis ini pergerakannya cepat. Simak penjelasan lebih detail dan bagaimana dampaknya untuk dunia.

Apa Itu Fast Fashion?

Fast fashion adalah konsep bisnis yang punya laju cepat. Lebih rinci lagi, fast fashion mengusung harga produksi yang murah. Namun, secara kualitas juga tidak lebih baik dari produk buatan tangan. Model pakaian yang diusung pun merupakan hasil jiplak dari brand fashion kelas atas.

Kemudian, fast fashion adalah istilah yang dipakai untuk mendeskripsikan desain pakaian yang diproduksi secara cepat ke toko-toko untuk dapat memanfaatkan tren dengan tepat. Produk industri ini juga sering didasari dari gaya yang sering ditampilkan pada acara peragaan busana atau digunakan oleh selebriti.

Siklus bisnisnya pun sangatlah cepat. Industri ini punya target sedemikian rupa agar mendapatkan profit yang banyak. Strategi yang dipakai salah satunya adalah sering menghadirkan tren baru namun jumlah yang terbatas. Sehingga konsumen akan merasakan FOMO dan cepat-cepat membeli artikel dari koleksi fast fashion tersebut.

Sejarah Fast Fashion

Sejarah proses produksi Fast fashion adalah dimulai dari adanya revolusi industri. Sebelum masa tersebut ada, sekitar tahun 1960-an, tren berpakaian disesuaikan ke dalam empat musim. Yakni terdiri dari musim panas, gugur, dingin, dan semi. Tak heran kala itu desainer bekerja sampai berbulan-bulan untuk dapat merancang pakaian hingga selesai.

Selain itu, fashion adalah suatu hal mewah yang hanya bisa dipakai oleh orang-orang kalangan atas sebab harganya sangat mahal. Minimnya pengetahuan mengenai mesin jahit, membuat desainer menjahit kain-kain dengan kualitas terbaik tersebut secara manual. Alhasil, proses penjahitannya pun telah menghabiskan waktu yang sangat lama.

Fast fashion adalah sebuah konsep yang baru saja dikenal pada saat dunia memasuki revolusi industri yang pertama, yaitu tahun 1980-an. Di masa itu, maraknya penggunaan mesin jahit menimbulkan produsen fashion memproduksi pakaian sebanyak mungkin dalam waktu sangat cepat. Dampaknya, produsen hanya berfokus terhadap kuantitas supaya mampu menjual sebanyak-banyaknya serta meraup keuntungan yang tinggi.

Melalui fenomena itulah fashion tak hanya sebatas untuk kelas atas namun seluruh kalangan dapat menggunakannya. Lebih lagi terdapat beberapa produsen yang menjual berbagai fesyen tiruan layaknya diproduksi merek-merek ternama dengan harga lebih murah. Mereka tidak lagi mementingkan kualitas bahan baku sehingga fast fashion ini akan berdampak buruk bagi lingkungan.

Apa Saja Ciri-ciri Fast Fashion?

Jika dilihat dari proses produksinya, fast fashion memiliki beberapa perbedaan dibandingkan konsep fesyen lainnya. Berikut ini ciri-ciri dari fast fashion adalah sebagai berikut:

1. Up to Date

Karena fast fashion memang dituntut untuk bisa menghasilkan tren yang cepat, maka mereka pun harus punya banyak model baju dan trennya harus cepat berubah.

2. Harganya Murah

Bahan baku yang digunakan dalam fast fashion adalah bahan yang memang berkualitas buruk. Dengan biaya produksi yang rendah, wajar saja bila harga pakaian di industri ini terbilang murah. Selain itu juga tidak awet dan hanya bisa dipakai dalam waktu singkat.

3. Cabangnya Banyak

Ritel fast fashion adalah industri yang memiliki banyak cabang dan biasanya tersebar di beberapa daerah. Bahkan menyebar hingga ke mancanegara. Tujuannya yang jelas adalah agar dapat menjangkau pasar sebanyak-banyaknya.

4. Diproduksi di Negara Berkembang

Demi menekan harga produksi, maka industri tekstil fast fashion biasanya punya pabrik di negara berkembang. Umumnya dibuat di negara Asia karena upah karyawannya pun lebih rendah dari negara Amerika dan Eropa.

Baca Juga: 7 Fungsi Topi Untuk Fashion dan Sehari-Sehari

Apa Saja Dampak dari Fast Fashion?

dampak dari fast fashion

Banyak sekali dampak yang bisa ditimbulkan dari industri fast fashion. Tidak hanya untuk lingkungan, kita sebagai manusia pun bisa kena efeknya. Berikut penjelasannya:

1. Pencemaran Air

Produk dari fast fashion adalah menggunakan pewarna tekstil tentunya akan merusak lingkungan. Dengan kata lain, pewarna tekstil terbuat dari bahan kimia. Hasil pengolahan produknya dapat menghasilkan limbah dan berdampak buruk terhadap kebersihan air. Banyak sekali pabrik fast fashion yang tidak mengolah limbah pabrik mereka dengan baik.

2. Penggunaan Sumber Energi Berlebihan

Fast fashion adalah industri yang setidaknya membutuhkan banyak air untuk menghasilkan bahan baku yang melimpah. Dalam produksi pakaian, mereka juga mengandalkan bahan baku yang terbuat dari fosil seperti minyak bumi untuk kelangsungan produksi saat di pabrik.

3. Gaya Hidup Konsumtif

Banyak dari beberapa produk fast fashion yang selalu muncul dengan tren terbarunya. Hal ini menimbulkan calon konsumen yang tidak mau ketinggalan terhadap tren terbaru. Sebenarnya sah-sah saja jika kamu membeli pakaian dengan dalih mengikuti tren, namun satu hal yang perlu disadari adalah, bila memang tidak sesuai dengan pribadi sendiri lebih baik tidak perlu diikuti.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Produk Fashion Pria Supaya Tampil Maksimal

Apa Saja Perbedaan Fast Fashion dengan Slow Fashion?

Sebelum kita bahas lagi perbedaannya, lebih baik kamu simak dulu arti dari slow fashion. Secara definisi, slow fashion adalah sebuah filosofi yang digagas oleh Kate Fletcher pada tahun 2007. Pergerakan ini merupakan sebuah bentuk protes dari adanya fast fashion.

Slow fashion adalah industri busana yang lebih mengedepankan kualitas bahan. Selain dari kualitas bahan, mereka juga berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan. Proses pembuatannya juga membutuhkan waktu lebih lama. Produknya pun  dibuat secara handmade. Industri slow fashion juga tidak terlalu bergantung terhadap tren. Tujuannya agar produk bisa digunakan lebih tahan lama.

Jadi, perbedaan dari fast fashion dan slow fashion sangatlah mencolok. Tambahan lagi, slow fashion juga dibuat lebih terbatas.

Bagaimana Cara Mengatasi Dampak dari Fast Fashion?

cara mengatasi dampak dari fast fashion

Demi keberlangsungan lingkungan yang lebih baik, selalu banyak cara untuk tetap menjaga kelestarian alam. Dampak yang masif dari fast fashion tentu akan berlangsung lama. Akibatnya, akan banyak sekali risiko jangka panjang yang ditimbulkan.

1. Memilih Pakaian Berkualitas

Pakaian yang terbuat dari bahan bermutu tinggi punya durabilitas yang panjang. Tidak seperti produk fast fashion yang jelek. Hal ini sering dikritik oleh para fashion enthusiast karena tidak awet. Kamu juga akan merasakan kualitas pakaian saat digunakan. Memang balik lagi, harga emang nggak bisa bohong.

2. Pikir Sebelum Membeli

Jadi orang konsumtif pun tidak baik bagi diri sendiri. Kebiasaan tersebut bisa menimbulkan rasa gelisah akibat FOMO. Kamu tidak perlu terlena dengan tren yang sering berganti. Cukup membeli baju bila memang sudah sangat kamu butuhkan. Contoh yang bisa kamu coba adalah dengan menerapkan 72 Hour Rule. Lewat metode ini, kamu bisa memikirkan selama 72 jam sebelum membeli sesuatu.

Baca Juga: Tips Bagaimana Membuat Desain Baju untuk Pemula di Dunia Fashion

3. Menjaga Lingkungan

Sejak kecil kita sudah diajari untuk lebih memperhatikan lingkungan. Banyak cara yang bisa kamu lakukan, salah satunya adalah dengan stop membeli produk fast fashion. Fast fashion menimbulkan limbah pakaian yang banyak. Resikonya banyak habitat alam akan rusak. Hal ini juga untuk kebaikan alam agar tetap bisa diwariskan untuk generasi berikutnya.

Sekarang kita harus sadar bahwa fast fashion adalah salah satu contoh industri yang kurang baik. Alih-alih mengedepankan tren malah dirasa percuma. Maka dari itu, kita harus memilih produsen baju berkualitas dan bahannya juga awet. Supaya kita bisa menjaga lingkungan demi masa depan yang lebih baik.

Contributor and Creative at Tshirtbar at Tshirtbar
Nabila merupakah penulis sekaligus tim creative dari Tshirtbar, seseorang yang mempunyai ketertarikan kuat dengan industri fashion, enterpreneur dan lifestyle
Nabila Putri Viatikara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *