Jenis Jenis Printing Baju yang Perlu Kamu Tahu

Selain warna dan model, jenis printing baju adalah hal lainnya yang kerap menjadi daya tarik sebuah produk konveksi. Desain dan kualitas cetakan yang berbeda-beda ini pun turut menjadi faktor penentu harga sebuah produk baju.

Jenis printing baju atau yang lebih familier disebut dengan sablon ada sangat banyak. Ada puluhan teknik mengaplikasikan gambar ke material cetak (dalam hal ini banyak diaplikasikan pada kaos dan jaket) ini. Sebagian di antaranya bahkan dapat kamu lakukan sendiri di rumah dengan cukup mudah, lho!

Tentunya, setiap jenis sablon juga punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Selengkapnya, berikut adalah ulasan tentang macam-macam sablon.

Rubber

Jenis printing baju ini adalah jenis yang paling sering digunakan, baik untuk bahan konveksi berwarna gelap maupun terang (walau hasil terbaiknya adalah pada bahan berwarna gelap). Bahan pada sablonan ini memiliki sifat menutup serat kain timbul yang timbul sehingga mempunyai hasil yang sangat elastis. 

Tinta sablon rubber yang tidak gampang pudar menjadi salah satu alasan mengapa jenis printing konveksi ini banyak dipilih. Namun, bau catnya pada saat masih basah cukup menyengat sehingga perlu diantisipasi bagi beberapa orang yang cukup sensitif. Adapun jenis rubber juga lazim digunakan sebagai teknik penyablonan dasar sebelum dilakukan teknik sablon lainnya.

Plastisol

Plastisol merupakan suspensi partikel VLC yang disebut plasticizer, yakni senyawa aditif yang dapat meningkatkan kelenturan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa jenis printing baju satu ini juga banyak digunakan. Selain itu, hasil gambarnya pun sangat jernih dan memberi tampilan seperti plastik. 

Jenis sablon plastisol ini berbahan dasar cat minyak ini dapat menghasilkan cetakan dot berukuran sangat kecil dengan kualitas prima. Tak cuma itu, plastisol juga terbilang sangat minim limbah. Hanya saja, kamu membutuhkan sinar infra merah untuk mengeringkan jenis cetakan yang satu ini sehingga memerlukan biaya lebih banyak.

Polyfex

Sablon polyfex menggunakan bahan seperti vinil atau stiker sehingga membuat gambar hasil cetakannya relatif tidak mudah pudar ataupun terkikis kendari sering dipakai dan dicuci. Semakin tinggi kualitas polyfex yang digunakan, maka semakin awet pula hasil cetakannya. Menariknya lagi, proses pembuatan jenis printing baju sablon polyflex ini jauh lebih cepat dibandingkan berbagai jenis sablon lainnya.

Di sisi lain, bahan vinil sendiri tergolong cukup mahal dan pilihan warnanya tidak cukup variatif. Selain itu, teknik sablon ini juga masih belum banyak digunakan, masih relatif tersedia di kota-kota besar saja.

DTG

Jenis printing baju ini sangat mudah dilakukan dengan menggunakan komputer. Kamu bisa menerapkan sablon ini untuk seluruh warna dan tak perlu membuat film warna terlebih dahulu seperti saat menggunakan teknik sablon manual. Hasil sablonannya pun cepat, halus, dan meresap pada bahan kaos sehingga cukup awet meski sering dicuci.

Sayangnya, sablon DTG mengharuskan mesinnya selalu berada di ruangan dingin (menggunakan AC) sehingga bisa jadi penambahan biaya operasional tersendiri. Selain itu, DTG juga memberi hasil yang kurang maksimal jika diterapkan pada bahan berserat lebar seperti wol atau kanvas. Adapun dalam kaitannya dengan kuantitas produksi, DTG tidak disarankan untuk pencetakan massal karena akan membuat printhead jadi panas dan cepat error.

Baca juga: Alasan Hasil Sablon DTG Tidak Mudah Rusak

Full Sublimation

Ini adalah metode print yang menggunakan tinta sublim, dan kemudian dicetak ke media transfer paper secara mirror. Hasil print tersebut akan dipanaskan dengan cara heat-press di atas kaos atau bahan kain, yang menyebabkan gambar akan berpindah ke kaos tersebut. Metode full sublimation ini cocok untuk menghasilkan kaos full-print custom. Gambar yang mengikuti pola baju akan dibutuhkan jika Anda ingin membuat kaos dengan metode yang satu ini.

 

Selain lima jenis printing baju di atas, masih ada beberapa teknik sablon lainnya yang dapat kamu pilih seperti flocking, superwhite, discharge, glow in the dark, chromicolor, dan sebagainya. Untuk memutuskan mana yang akan dipilih, pastikan kamu menyesuaikannya dengan kebutuhan berdasarkan kelebihan berikut kekurangan tiap jenisnya, ya!

Bryan Wicaksono
Latest posts by Bryan Wicaksono (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *